ETIKA KEPEMIMPINAN KRISTEN

Artikel Add comments

KATA PENGANTAR
Sehubungan dengan pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan Pemuda Gereja ( LDKPG ) yang diselenggarakan oleh Badan Pelayan PAM GKI Jemaat Sion Sanggeng, maka Panitia Pelaksana LDKPG memberikan kesempatan kepada saya untuk membawakan materi tentang ETIKA KEPEMIMPINAN KRISTEN pada Latihan Dasar Kepemimpinan Pemuda Gereja ( LDKPG ) dimaksud.
Materi ini sangat penting dan memiliki posisi strategis mengingat perkembangan zaman ( globalisasi ) terhadap kaum muda gereja khususnya Kaum Muda GKI sebagai tulang punggung Gereja Kristen Injili di Tanah Papua terhadap eksistensi Gereja ini dalam sejarah Tanah Papua dari abad ke abad.
Materi ETIKA KEPEMIMPINAN KRISTEN, untuk kali ini disajikan secara singkat dengan sistematika sebagai berikut :
A. PENDAHULUAN
B. PENGERTIAN-PENGERTIAN
1. ETIKA
2. KEPEMIMPINAN
3. ETIKA KEPEMIMPINAN KRISTEN
C. IMPLEMENTASI ETIKA KEPEMIMPINAN KRISTEN
D. PENUTUP

A. PENDAHULUAN

Didalam Judul Materi ETIKA KEPEMIMPINAN KRISTEN, terdapat dua kata kunci : “ Etika “ dan “Kepemimpinan” dengan fokus utamanya adalah Kepemimpinan menurut Etika Kristen. Pada dasarnya kepemimpinan Kristen memiliki faktor-faktor dan matra-matra dasar kepemimpinan yang sama dengan kepemimpinan umum lainnya.
Pada sisi lain kenyataan yang membedakan antara kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan sekuler ialah hakikat, dinamika, serta falsafah yang didasarkan pada Alkitab. Sebagai contoh, premis utama kepemimpinan Kristen ialah bahwa Allah yang berdaulat oleh kehendak-Nya yang kekal, telah menetapkan serta memilih setiap pemimpin Kristen kepada pelayanan memimpin.
Menjadi suatu keharusan pada masa sekarang dalam berbagai kelompok, organisasi kecil ataupun besar, organisasi publik, swasta atau organisasi apapun jika memilih pemimpin, maka satu unsur yang turut menentukan seseorang dipilih sebagai pemimpin adalah soal “ etika calon/figur “ yang hendak dipilih. Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok, baik sebagai pemimpin keluarga baru, pemimpin kelompok, pemimpin suku, pemimpin masyarakat, pemimpinan organisasi pemuda, gereja, politik, pemerintahan dst.
Pokok pembicaraan kita sekarang adalah Etika Kepemimpinan menurut Pandangan/Falsafah Kristen. Hal ini sangat penting didiskusikan, dibicarakan pada setiap kesempatan, mengingat saat ini, gereja sedang menghadapi salah satu tantangan yang paling berat. Di tengah-tengah perjuangan untuk hidup dalam standar moral, etika, dan kesalehan yang telah ditetapkan oleh Yesus Kristus sendiri bagi kehidupan orang percaya, ada tantangan lain yang datang dalam bentuk yang berbeda.
Bukan rahasia lagi bahwa kini, jemaat-jemaat Kristen sedang menghadapi tantangan yang amat besar dalam bidang kepemimpinan. Tantangan ini merupakan salah satu tantangan nyata yang mencoba mengikis dasar dan stabilitas kepemimpinan gerejawi. Karena itu, jika saudara-saudara terlibat dalam bentuk kepemimpinan gerejawi apa pun, kini kita wajib memahami bagaimana cara berjalan dalam arah kepemimpinan sejati yang memberi inspirasi.

B. PENGERTIAN-PENGERTIAN

1. Etika
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani yaitu “ethos” yang berarti watak atau kebiasaan. Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya dengan etiket yang berarti cara bergaul atau berperilaku yang baik yang sering juga disebut sebagai sopan santun. Istilah etika banyak dikembangkan dalam organisasi sebagai norma-norma yang mengatur dan mengukur perilaku profesional seseorang.
Kita kenal saat ini banyak dikembangkan etika yang berkaitan dengan profesi yang disebut sebagai etika profesi seperti etika kedokteran, etika hukum, etika jurnalistik, etika guru, dan sebagainya
Etika berkaitan dengan baik dan buruk, benar dan salah, betul dan tidak, bohong dan jujur. Dalam berinteraksi dengan lingkungan, orang-orang dapat menunjukkan perilaku yang dinilai baik atau buruk, benar atau salah ketika melakukan suatu tindakan. Hal tersebut sangat bergantung kepada nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan di mana orang-orang berfungsi. Tidak jarang terdapat penilaian yang berbeda terhadap suatu perilaku dalam lingkungan yang berbeda.
Hubungan Etika-Moral dan Moralitas
Istilah etika sering disamakan dengan moral (Latin: mos) atau moralitas (Latin: moralis; Inggris: morality). Kedua istilah tersebut, etika dan moralitas (atau moral), memang mempunyai pengertian yang sangat dekat, dan dalam hubungan ini kita dapat mendefinisikan etika sebagai studi tentang moralitas. Studi mengenai norma-norma yang dimiliki atau dianut oleh individu atau kelompok mengenai apa yang benar dan salah (baik dan jahat).
Etika pada dasarnya berkaitan erat dengan moral yang merupakan kristalisasi dari ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, patokan-patokan, kumpulan peraturan-peraturan ketetapan baik lisan maupun tulisan.
Etika dan moral mengandung pengertian yang mirip dalam percakapan sehari-hari dalam masyarakat. Kedua istilah ini dikenal dengan makna kesusuilaan. Realitas pengamalan etika dan moral seseorang tampak dari tingkah laku dan kadar kualitas pengamatannya sesuai dengan kematangan rohani, jasmani, dan pribadinya.
Etika merupakan nilai-nilai perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang atau organisasi ketika berinteraksi dengan lingkungannya. ( orang itu tidak tahu etika, tidak sopan ).

2. KEPEMIMPINAN
Istilah Kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang berarti bimbing atau tuntun , kemudian lahir kata kerja memimpin yang berarti membimbing atau menuntun. Kemudian berubah dalam kata benda pemimpin atau orang yang berfungsi memimpin atau menuntun. ( Buku Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia, Drs.Pamudji, MPA).
Istilah pemimpin berasal dari kata asing “leader”. Kepemimpinan dari kata “leadership” Walaupun kepemimpinan tidak sama dengan manejemen, namun pengertiannya tidak bisa dipisahkan dengan terdapat beberapa perbedaan
Kepemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya jika ada kepemimpinan. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara, Page 23).
1. Menurut Ordway Tead,
Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar orang-orang itu bekerjasama mencapai tujuan yang mereka inginkan
2. Menurut George R. Terry
Kepemimpinan merupakan kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar orang-orang itu mencapai tujuan kelompok.
3. Menurut Keith Davis
Kepemimpinan adalah faktor kemanusiaan yang mengikat kelompok menjadi satu dan mendorongnya menuju tujuan.
4. Menurut William H.Newman ( 1968 ) dalam Miftah Thoha ( 2003;262 ) kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok.
Kepemimpinan sebagai titik pusat proses proses kelompok. Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang mempunyai pengaruh. Kepemimpian adalah seni untuk menciptakan kesesuaian faham atau keseiaan, kesepakatan.
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukanya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari perannya memberikan pengajaran/instruksi.
Dan satu hal yang perlu diingat bahwa kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tata krama birokrasi. Kepemimpinan bisa terjadi dimana saja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi perilaku orang lain kearah tercapainya suatu tujuan tertentu.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan merupakan kemampuan dan keahlian khusus seseorang untuk mempengaruhi, mengarahkan, dan menggerakkan tingkah laku orang lain atau bawahan baik perorangan maupun kelompok agar dapat bekerja sama dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan oleh organisasi / perusahaan.

3. ETIKA KEPEMIMPINAN KRISTEN
Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang terjadi atas panggilan dan pilihan Allah kepada setiap orang untuk tampil sebagai pemimpin. Kita dapat baca dalam Kitab Raja-Raja. Pemimpin Kristen terpanggil oleh Allah dengan Integritas Kepemimpinan yang Lengkap untuk Memimpin. Allah berdaulat menetapkan dan memilih setiap pemimpin Kristen pada pelayanan untuk memimpin.
J. Robert Clinton yang mengatakan bahwa, “Pemimpin Kristen ialah seseorang yang dipanggil Allah sebagai pemimpin, yang ditandai dengan kapasitas memimpin, tanggung jawab pemberian Allah untuk memimpin suatu kelompok umat Allah (gereja), untuk mencapai tujuan-Nya bagi dan melalui kelompok ini” (Clinton 1989:36).
Ungkapan Clinton di atas memiliki beberapa implikasi penting yang harus dicermati, antara lain: Pertama, panggilan Allah kepada seseorang untuk menjadi pemimpin adalah bersifat mutlak (Yohanes 3:27), bahwa panggilan Allah merupakan dasar kepemimpinan seorang pemimpin. Karena Allah memanggil, maka mereka yang terpanggil menemukan diri mereka terpanggil pada tugas kepemimpinan. Panggilan Allah ini adalah panggilan khusus, Allah oleh rahmat-Nya memanggil seseorang menjadi pemimpin, yang diawali dengan panggilan (Band. Yohanes 15:16; 10:28, 29; Roma 12:8; Efesus 4:11-16; Keluaran 18:17-21; dan Kisah Para Rasul 6:1-7).
Seorang pemimpin Kristen disebut baik, setia jujur, rajin, tahan uji, memiliki mental, bermoral, berakhlak, terpuji, dan sebagainya bukan karena ia memang baik, tetapi karena ia adalah orang berdosa yang telah ditebus oleh Kristus. Dengan integritas dan kredibilitas yang tinggi, maka hidup rohani, etis, dan moral pemimpin Kristen akan menunjukkan karakter yang agung. Ia dapat disebut sebagai figur yang memimpin seperti Kristus, yakni seorang pemimpin yang memiliki kehidupan yang menempatkan Kristus sebagai pusat dan di atas segala-galanya, yaitu pemimpin yang memahami hakikat dan tanggung jawabnya sebagai landasan untuk berkiprah dalam kepemimpinan Kristen.
Kedua, panggilan Allah terhadap pemimpin ini merupakan dasar kekuatan rohani pemimpin. Kekuatan rohani itu merupakan dinamisator demi terwujudnya integritas dan kredibilitas dirinya sebagai pemimpin Kristen. Dalam perspektif Ibrani 13:7, 17, pemimpin seperti ini adalah pemimpin model (pemimpin teladan, Red) dan pemimpin bertanggung jawab yang dapat dijadikan panutan karena ia dengan rendah hati menghidupi dan mempertahankan iman yang murni dan melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan penuh tanggung jawab. Sebagai pemimpin, ia dianggap kompeten dalam bidang hidup rohani, karena kuasa penebusan Kristus oleh Roh Kudus yang berkarya di dalam dirinya, dan dinamika rohani yang mendewasakan dan menjadikannya sebagai pemimpin rohani yang andal. Pada sisi lain, sebagai pemimpin bertanggung jawab, ia akan terbukti kompeten dengan kinerja yang membawa kebaikan bagi semua pihak dalam kepemimpinannya.
Gereja dan kepemimpinan Kristen dapat mewujudkan pengaruhnya sebagai garam dan terang bagi dunia ini. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa oleh rahmat Allah, kita yakin bahwa pemimpin atau kepemimpinan Kristen dapat mengungguli tantangan di abad XXI ini dengan membawa pengaruh positif, karena didasarkan atas kebenaran: Pertama, pemimpin Kristen terpanggil oleh Allah dengan integritas kepemimpinan yang lengkap untuk memimpin. Kedua, pemimpin Kristen diteguhkan oleh Allah dengan kapasitas kepemimpinan yang tangguh untuk memimpin. Ketiga, pemimpin Kristen dijamin oleh Allah dengan kapabilitas kepemimpinan yang penuh untuk memimpin.
Merujuk pada kebenaran yang disinggung di atas, dapatlah ditegaskan di sini bahwa dengan integritas dan kredibilitas diri yang tinggi dari seorang pemimpin, ia dapat mencerminkan kehidupan berakhlak dan bermoral tinggi yang bermuara pada karakter yang tinggi pula. Karakter rohani seperti ini memiliki aroma yang kuat, sehingga dalam hubungan sosialnya dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan etika dan moral umat Allah dengan pengaruh yang positif. Dengan demikian, pemimpin Kristen yang memiliki integritas seperti ini akan menemukan bahwa dalam kinerja kepemimpinannya oleh rahmat Allah ia dapat mewujudkan pengaruh positif yang akan meneguhkan orang-orang yang dipimpinnya dengan kehidupan etis dan moral yang bertanggung jawab, sehingga ia disebut kredibel. Pada sisi lain, ia dan orang-orang Kristen yang dipimpinnya dapat menjadi sumber pengaman yang dengan kekuatan positif dapat melebarkan pengaruh yang mengalahkan tantangan etis dan moral yang merongrong serta merusak kehidupan bangsa.

C. IMPLEMENTASI ETIKA KEPEMIMPINAN KRISTEN

Dalam implementasi kepemimpinan kristen, secara penuh kita menggunakan nilai-nilai kepemimpinan yang tersurat didalam Alkitab, Kitab Suci Umat Kristen sebagai satu-satunya sumber yang mengungkapkan pengalaman sejarah tentang Etika Kepemimpinan Kristen pada Zaman Perjanjian Lama hingga Zaman Perjanjian Baru ini.
Satu kutipan dari Henry Pratt Fairchild, menjelaskan bahwa arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Oleh karena itu, kita akan memahami perbedaan antara seorang pemimpin dan seorang bos dari kualitas yang dimilikinya. Perbedaan tersebut antara lain :
1. Seorang Boss akan mengandalkan kekuasaannya, tetapi seorang pemimpin mengandalkan integritasnya;
2. Seorang Boss akan memperkerjakan bawahannya, tetapi seorang pemimpin mengilhami bawahannya;
3. Seorang bos menimbulkan ketakutan, tetapi seorang pemimpin pasti menimbulkan kepercayaan bagi bawahannya;
4. Dalam setiap aktivitas bersama, seorang bos mengatakan “aku”, tetapi seorang pemimpin mengatakan “kita;”
5. Seorang pemimpin menunjukkan apa yang salah, tetapi seorang bos menunjukkan siapa yang salah;
6. Seorang bos menuntut rasa hormat dan meminta bawahan untuk berkorban, tetapi seorang pemimpin membangkitkan rasa hormat dan melakukan pengorbanan.
Berikut ini adalah Sembilan langkah sederhana yang dapat menolong kita menjalankan tugas dan panggilan kita sebagai pemimpin ataupun calon pemimpin Kristen dalam Kepemimpinan Kristen, antara lain :
1. Pastikan Anda melakukan apa yang Anda katakan.
Salah satu hal terpenting yang dapat kita lakukan sebagai pemimpin Kristen adalah memastikan bahwa kita melakukan apa yang kita katakan. Ini berarti bahwa kita hidup berdasarkan apa yang kita percayai. Jika ada hal lain dalam hidup kita, baik secara moral maupun secara etika, yang tidak pantas diketahui oleh banyak orang, wajib kita harus menghapusnya dengan segera. Jangan berikan kesempatan kepada orang lain untuk berpikir bahwa kita adalah seorang munafik.
2. Berlakulah jujur.
Bekerjalah dalam perilaku yang menyatakan bahwa keputusan apa pun yang kita buat adalah jujur dan beretika. Sulit untuk memimpin siapa pun secara efektif, baik orang Kristen ataupun bukan, ketika keputusan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan dianggap tidak adil, tidak bermoral, dan tidak jujur. Pastikan agar segala keputusan dan tindakan kita dalam kerangka kejujuran.
3. Katakanlah kebenaran.
Walaupun hal ini seharusnya sudah menjadi bagian dari diri setiap pemimpin Kristen, hal ini juga penting untuk saya sampaikan. Berkomitmenlah untuk mengatakan kebenaran, apa pun yang terjadi. Sebagai seorang pemimpin Kristen, ketika kita berbohong atau hanya mengatakan setengah kebenaran, orang-orang akan cenderung merasa bahwa keseluruhan iman kita adalah palsu. Bahkan, jika saya dan saudara terbiasa untuk berbohong dan mengatakan setengah kebenaran, kemungkinan besar iman kita memang palsu dan kita memerlukan anugerah Allah dalam bagian hidup kita ini.
4. Tetaplah menjadi pemimpin yang belajar.
Para pemimpin yang gemar belajar selalu membuat mereka menjadi orang-orang yang layak diikuti. Sesungguhnya, merupakan sebuah kehormatan untuk belajar dan memahami segala sesuatu tentang tugas panggilan kita, meskipun itu berarti saudara dan saya harus merendahkan diri dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sederhana untuk sementara waktu. Tak seorang pun yang suka dipimpin oleh seorang pemimpin yang tidak pernah melakukan apa pun yang dituntutnya dari orang lain. Hal ini tidak berarti bahwa kita harus menjadi seorang ahli, namun ambillah bagian dalam pekerjaan kasar dalam waktu yang cukup lama untuk mampu memahami segala aspek yang membuat frustrasi dalam sebuah pekerjaan. Keuntungan lain dalam melakukan ini adalah, jika kita benar-benar telah melakukan pekerjaan dengan baik, kita dapat lebih efektif dalam menghasilkan pemikiran untuk memecahkan berbagai masalah yang muncul.
5. Memimpin dengan teladan.
Jadikan kepemimpinan kita sebagai sebuah keteladanan. Bagaimana kita mengharapkan para anggota atau para koordinator urusan/seksi tiba tepat waktu dan berpakaian baik, jika kita sendiri selalu terlambat dan berpenampilan tidak rapi? Mereka akan melakukan apa yang mereka lihat dari kita. Sering kali, banyak pemimpin berpikir bahwa posisi mereka membuat mereka memiliki hak untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan tanpa dinilai. Ini merupakan pemikiran yang salah. Semakin tinggi kita memimpin, kita harus semakin bertanggung jawab karena sekarang kita memiliki tugas untuk memimpin bawahan ke arah yang tepat melalui teladan yang kita berikan.
6. Tetap produktif.
Jangan lepaskan keterlibatan diri kita dari sistem produksi/hasil pelayanan, sekalipun kita merasa telah memiliki hak untuk mendelegasikan semua pekerjaan itu. Dengan demikian, kita tidak hanya akan mendapat penghormatan dari anggota organisasi kita, tetapi juga membuat kita akan terus bersinggungan dengan pelaksanaan berbagai tugas. Sebagai seorang pemimpin, sangatlah mudah untuk terpisah dari bagian-bagian produksi yang tengah terjadi dalam pekerjaan kita, dan mulai membuat keputusan-keputusan yang terlihat bagus di atas kertas dan terdengar baik di sekitar meja kepemimpinan. Namun, waspadalah terhadap pengambilan keputusan semacam ini, karena model proses ini hanya menghasilkan keputusan-keputusan yang tidak berguna ketika bertemu dengan kenyataan/fakta yang terjadi.
7. Selidiki diri kita sendiri.
Kita harus terus mengevaluasi diri sendiri. Kita mungkin menghabiskan banyak waktu untuk untuk mengoreksi tindakan orang lain dan memecahkan krisis yang tidak kita ciptakan. Ini akan meningkatkan perasaan bahwa kita sering kali tidak memiliki kesalahan dan kelemahan dalam tugas-tugas kita. Lacak pertumbuhan dan kemajuan diri kita sendiri. Mintalah tanggapan dari yang lain secara jujur karena kita mungkin tidak sadar ketika jatuh dalam kebiasaan buruk yang perlu untuk diperbaiki. Jadilah yang pertama dalam mengenal dan memperbaiki kejatuhan kecil diri kita sendiri.
8. Singkirkan kesombongan.
Sebagai seorang pemimpin, terutama jika kita ahli dalam mengerjakan pekerjaan kita, sangat mudah untuk mulai merasa bahwa kita tidak terkalahkan. Ketika pemikiran-pemikiran semacam ini mulai muncul, kita harus waspada karena hal ini sering membuat kita lebih rentan terhadap kesombongan dan akan menyebabkan kita sulit untuk diikuti sebagai seorang pemimpin. Hal tersebut dapat menyebabkan kehancuran pada siapa pun yang mengikuti kita. Hanya terdapat batas tipis antara kepercayaan diri yang kuat dan kesombongan. Pastikan bahwa kita tetap rendah hati dan tidak melanggar batas tersebut.
9. Belajarlah mengatur waktu secara bijaksana.
Ketika kita berada dalam posisi sebagai pemimpin dan menyadari bahwa kita sering tidak membagi tugas namun mengerjakan tugas-tugas sendirian, kehilangan kendali atas pengaturan waktu kita akan sangat mudah terjadi. Jika bawahan kita melihat bahwa kita melalaikan tugas, mereka pun akan melakukan hal yang sama.
Dalam Alkitab, Kitab Suci, kita dapat menbaca nilai-nilai kepemimpinan yang diajarkan Tuhan Yesus yang dapat kita pakai sebagai pilar-pilar kepemimpinan Kristiani yang penting dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu, : 1. GARAM (MATIUS 5:13) 2. TERANG (MATIUS 5:14-16) 3. TAMPARAN (MATIUS 5:38-39) 4. ULAR & MERPATI (MATIUS 10:16).
Dalam implementasi Kepemimpinan Kristen dalam tugas pelayanan gereja, sangat dibutuhkan dari kita peran apa yang harus kita berikan. Pemimpin Kristen harus memiliki motif dasar kepemimpinan Kristen, antara lain membina hubungan dengan orang yang dipimpinnya dan orang lain pada umumnya (Markus 3:13-19; Matius 10:1-4; Lukas 6:12-16). Dalam kaitan ini, perlu disadari bahwa kadar hubunganlah yang menentukan keberhasilan seseorang sebagai pemimpin. Hubungan tersebut yang pada akhirnya dapat menciptakan kesatuan anggota. Jika pemimpin itu diumpamakan sebagai seorang nahkoda kapal, maka ia dituntut kemampuan untuk mengarahkan kapal dan sekaligus menyatukan seluruh anak buahnya. Bagi seorang pemimpin, ia harus mengetahui posisi dan sekaligus tahu akan digerakkan kemana anggota yang sedang dipimpinnya.
Kreiner menyatakan bahwa Leadership adalah proses mempengaruhi orang lain dimana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sukarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi. Hal partisipasi anggota inilah yang juga menjadi point utama dalam LDKPG ini. Saat ini telah terjadi pergeseran paradigma tentang kepemimpinan. Dahulu, pemimpin dianggap satu-satunya penentu keberhasilan sebuah organisasi (kata organisasi di sini meliputi juga persekutuan kaum muda gereja). Sedangkan anggota organisasi hanyalah pihak yang mengikuti dan mematuhi segala instruksi pemimpin. Jika tidak, anggota dianggap menghambat kesuksesan organisasi. Maka, pemimpin cenderung otoriter pada anggota supaya patuh. Namu, paradigma baru sekarang ini Pemimpin bukan satu-satunya penentu kesuksesan organisasi, tetapi anggota juga berperan besar. Pemimpin sendiri, tanpa partisipasi aktif anggota tidak akan mampu membawa organisasi mencapai tujuannya.
Hal penting yang harus diperhatikan pemimpin sekarang adalah bahwa pemimpin berperan makin kompleks karena harus mampu memberdayakan dan menjaga kesatuan anggotanya, dimana ia mampu membangkitkan insiatif dan partisipasi aktif anggota tanpa perlu berlaku otoriter. Pada era sekarang ini, pemimpin harus meningkatkan self-esteem anggota dengan salah satu cara yang terbukti ampuh, yaitu tindakan rela bekorban (bayar harga). Sebuah hasil penelitian pada 2004 membuktikan bahwa pemimpin yang rela berkorban akan meningkatkan self-esteem anggotanya. Pengorbanan pemimpin akan dilihat sebagai sinyal bahwa pemimpin menghargai organisasi sehingga anggota semakin percaya diri dan bangga menjadi bagian dari organisasi. Lebih lanjut, pengorbanan diri pemimpin merupakan contoh nyata bagi anggota untuk melakukan hal yang sama. Anggota makin termotivasi untuk bekerja mencapai tujuan organisasi.
Dalam kepemimpinan Kristen butuh persyaratan pemimpin dari sisi rohani, yang disebut sebagai pemimpin rohani. Jika persyaratan kualitas karakter dan sosial dalam pemimpin umum bersifat relatif, bahkan boleh saja tidak dimiliki, maka persyaratan pemimpin Kristen sangat menekankan aspek karakter dan sosialnya. Ada dua puluh kriteria yang dicantumkan dalam Tit. 1:5-9, delapan belas berkaitan dengan reputasi seseorang, etika, moralitas, temperamen, kebiasaan, dan kedewasaan rohani serta psikisnya. Kualifikasi dalam 1 Tim. 3:1-7 ini memiliki tiga ciri menonjol, yakni menyangkut 1) persyaratan fundamen, bukan tugas, 2) tingkah laku yang teramati, 3) karakter tersebut bukan khas Kristen melainkan ideal tertinggi moralitas konteks Hellenistis zaman itu. Ini berguna demi kesaksian gereja. Jadi kriteria di atas menunjukkan bahwa persyaratan seorang pemimpin rohani sangat ketat dan menuntut kedewasaan jiwani, rohani dan sosial.
Tuhan Yesus menegaskan adanya perbedaan esensial antara pemimpin Kristen dan pemimpin sekuler dengan menyatakan, “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mrk. 10:42-45).

D. PENUTUP.
Sebagai akhir dari materi ini dapat diberi kesimpulan, bahwa makna pemimpin dalam konsepsi Alkitab, bukan berarti seseorang disebut pemimpin rohani (Kristen) karena ia seorang Kristen atau melibatkan diri dalam pelayanan Kristen. Pemimpin Kristen berarti pemimpin yang mengenal Allah secara pribadi dalam Kristus dan memimpin secara kristiani.
Pemimpin Kristen adalah pribadi yang memiliki perpaduan antara sifat-sifat alamiah dan sifat-sifat spiritualitas Kristen. Sifat-sifat alamiahnya mencapai efektivitas yang benar dan tertinggi karena dipakai untuk melayani dan memuliakan Allah. Sedangkan, sifat-sifat spiritualitas kristianinya menyebabkan ia sanggup mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk menaati dan memuliakan Allah. Sebab daya pengaruhnya bukan dari kepribadian dan ketrampilan dirinya sendiri, tetapi dari kepribadian yang diperbaharui Roh Kudus dan karunia yang dianugrahkan Roh Kudus.
Jadi, Kepemimpinan Kristen bukan untuk mencari keuntungan materi maupun non-materi, melainkan untuk pelayanan (Luk. 22:26).
Ingatlah, menjadi pemimpin sejati berarti lebih dari sekadar mengatakan kepada anggota/pengikut kita tentang apa yang harus mereka lakukan dan kapan waktu untuk melakukannya. Melainkan menjadi pemimpin adalah tentang membantu orang lain bertumbuh dan berhasil karena teladan-teladan bernilai yang kita berlakukan pada kepemimpinan kita.

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Masuk log