THE DEVELOPMENT OF THE OIL PALM PLANTATION THE ENVIROMENTAL ORIENTED
OF THE EMPOWERMENT THE ECONOMY OF THE LOCAL PEOPLE IN MANOKWARI
Nataniel Dominggus mandacan * )
Program Studi Magister Administrasi Publik
Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada
ABSTRACT
The government pursued the development for the well being of its people. The implementation of the development program in the last fourty years in the Papua province has not resulted in the significant improvement of the living condition of Papua people, while the province has in general contributed a big number of its very rich natural resources to the interest of central government. The living standard of the rural people of Manokwari regency was still underdeveloped. There was a wide social and economic gap of the native people of Manokwari and those coming from outside of the region.
The local government made a policy of the environmental oriented and sustainable economic empowerment of the economy of the local people to fill the economic gap. The implementation of the policy was the development of the oil palm plantation in Prafi area of the subdistricts of Warmare and Prafi. The agricultural enterprise has been operated for more than 20 years.
The objective of the study and the preparation of the thesis were:
1) To analyze the extent to which the implementation of the policy development of the oil palm types The Plantation Nucleus People ( The Nucleus Estate Scheme ) environmental oriented of the local people in Manokwari regency was succesful.
2) To appraise the extent of the policy in improving the well being of the local people.
The format of the study is to obtain the data in the preparation of the thesis was descriptive and qualitative in nature. The data was collected using four methods. They are: 1) documentation, 2) observation, 3) questionnaire, and 4) interview. The locus of the study was the subdistricts of Warmare and Prafi with the target of the oil palm farmers. There were 374 individuals sampled out from the 3,450 farmers in 17 sample villages.
The policy was implemented in a cooperation or a partnership with PT. Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa Medan since 1983 and the results were: 1) A 10,000 hectar plantation area has been developed; 2) The employment was created that absorbed 6,200 employee of household heads of the land owner farmers; 3) The was an increase in the income of the farmers from Rp. 500,000 to Rp. 1,000,000 in a harvest per hectar; and 4) The responsible management of the environment was practiced.
The factors influencing or highly related to the success of the implementation of the polidy were: 1) The high commitment of the regent; 2) The high participation of the people; 3) The very positive perception of the policy and the environment; 4) The reliable and high quality field apparatus; and 5) The prevailing harmonious relationship between the local government and PT. Perkebunan Nusantara II Prafi and also the people.
Key words : social and economic gap, development of the oil palm plantation
improving the well being of the local people.
PENGANTAR
Latar Belakang
Pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah dalam sebuah negara merdeka apapun wujudnya, sasaran dan tujuan akhirnya adalah untuk mensejahterakan rakyatnya secara materiil dan spirituil. Pada dasarnya pembangunan itu adalah suatu proses sosial yang direncanakan dan berlangsung secara berkelanjutan, meliputi proses ekonomi, politik, social, budaya, hukum, ekologi, sumber daya manusia dan aspek lainnya yang menyangkut kehidupan manusia. Pembangunan yang baik semestinya memiliki dampak positif berlipat ganda dan menekan dampak negatif seminimal mungkin. Fakta yang terjadi dan dirasakan adalah terjadinya dampak negatif lebih besar disebabkan banyak hal, mulai dari ketidaktahuan, tidak adanya wawasan, hambatan yang terjadi hingga kesengajaan, semua prilaku ini akan menimbulkan permasalahan berkepanjangan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa usikan terhadap tatanan lingkungan akan terus terjadi sepanjang jaman, sejalan dengan dinamika kehidupan manusia.
Ketika Rakyat Papua ( Irian Jaya ) lepas dari jajahan Pemerintah Belanda yang berkuasa sejak tahun 1828 dan kemudian pada tanggal 1 Mei 1963 dilakukan transfer administrasi pemerintahan dari United Nation Executive Authority ( UNTEA ) suatu badan pelaksana yang dibentuk PPB untuk menangani masalah Papua, maka saat itulah Papua kembali berintegrasi dalam kekuasaan Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hingga sekarang sudah 40 tahun lamanya aktivitas pembangunan dilaksanakan di Papua namun belum memberi manfaat yang berarti dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat, hal ini dirasakan di seluruh kabupaten di Papua.
Faktor sosial budaya merupakan suatu kendala terbesar dalam memacu tingkat perkembangan yang sejalan dengan kebijakan pembangunan nasional. Selain faktor dimaksud, kendala dan hambatan pokok lainnya yang dihadapi dalam upaya pengembangan ekonomi rakyat di Papua dan kuhusnya di Kabupaten Manokwari antara lain :
1. Terbatasnya aksesibilitas yang dapat menghubungkan pusat kota dengan daerah-daerah potensial akibat kondisi geografis yang sulit dijangkau.
2. Sulitnya melakukan penataan pemukiman masyarakat dalam suatu lokasi strategis untuk memudahkan pelayanan, akibat faktor budaya masyarakat yang tidak menghendaki pembauran / penyatuan pemukiman.
3. Rendahnya kualitas pengetahuan masyarakat bila dilibatkan dalam pola pertanian modern, akibat faktor budaya dan rendahnya pendidikan.
Antara tahun 1970-an hinga 1980-an kondisi kehidupan masyarakat di Kabupaten Manokwari sangat memprihatinkan terutama masyarakat di pedesaan. Berawal dari rasa keprihatinan A.S. Onim ( Mantan Bupati Manokwari ) terhadap kondisi tersebut, lahirlah kebijakan Bupati untuk membangun perkebunan kelapa sawit yang dicetuskannya sejak tahun 1975 yang kemudian baru terealisir pada tahun 1983, berlokasi di dataran Prafi Kecamatan Warmare ( sekarang Kecamatan Warmare, Prafi dan Masni ).
Oleh karena itu perhatian dan pemihakan kepada perekonomian rakyat merupakan upaya khusus yang digalakkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari untuk meningkatkan ekonomi rakyat melalui perwujudan langkah-langkah strategis yang diarahkan langsung untuk memperluas akses rakyat kepada sumber daya pembangunan serta menciptakan peluang seluas-luasnya bagi masyarakat lapisan bawah untuk ikut berperan memperbaiki tingkat ekonominya menjadi suatu landasan yang kokoh memperkuat kondisi ekonomi daerah sehingga mampu mengatasi ketertinggalannya serta ikut dalam persaingan ekonomi regional dan nasional yang lebih nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab.
Kebijaksanaan pembangunan nasional dibidang ekonomi ditetapkan didalam GBHN yang sejak Pelita III terutuang didalam Ketetapan MPR Nomor : IV/MPR/1978, pada Pelita IV dalam Ketetapan Nomor : II/MPR/1983 maupun dalam Pelita V ditetapkan dalam TAP Nomor : II/MPR/1988 kesemuanya menegaskan tentang arah dan prioritas pembangunan ekonomi, salah satu subsektornya adalah pembangunan Perkebunan untuk meningkatkan perluasan lapangan pekerjaan dan meningkatkan penghasilan rakyat dengan mengikutsertakan / melibatkan perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta ( TAP MPR 1983 : 71; TAP MPR 1988 : 35 )
Berdasarkan Kebijaksanaan Nasional tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Manokwari menetapkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 1985 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Manokwari Tahun 1984/1985-1989/1990. Tiga pendekatan program strategis yang termuat dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah Kabupaten Manokwari tersebut adalah 1). pembukaan isolasi wilayah, 2). pemberdayaan ekonomi rakyat dan percepatan pengembangan kawasan-kawasan potensial, 3). pengembangan dan peningkatan pengelolaan sumber daya alam secara berkesinambungan, serta peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan hidup.
Bila ditinjau dari statusnya, sesungguhnya perkebunan kelapa sawit adalah perkebunan sakala besar yang dimiliki dan diusahakan oleh Perusahaan Besar berciri kapitalis, sangat bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat yang masih berpola tani tradisional seperti masyarakat di dataran Prafi Kecamatan Warmare. Namun demikian untuk mempertemukan dua hal yang berbeda ini, Program Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit yang dikembangkan adalah dengan pola Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan ( PIR-BUN ) meliputi Kebun Inti yang dimiliki Perusahaan dan Kebun Plasma yang diperuntukan bagi Masyarakat, baik warga masyarakat lokal setempat maupun warga transmigrasi dari Pulau Jawa, Bali dan NTT. Mengingat keterbatasan daya dan dana yang dimiliki Pemerintah Daerah maupun warga masyarakat, maka dilakukan kerja sama dengan PT. Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa Medan sebagai Perusahaan Inti untuk turut merealisasikan kebijakan / program Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit dimaksud. Pengembangan perkebunan dengan pola PIR-BUN ini dikarenakan beberapa hal antara lain : masyarakat sebagai petani belum mampu untuk membangun lahan kebun sendiri, menyediakan bibit, membiayai tenaga kerja dan unsur-unsur lain. Dengan demikian Perusahaan Perkebunan sebagai Inti dapat lebih dulu melakukan / menyiapkan semua kebutuhan yang kemudian dikompensasikan sebagai kredit kepada petani plasma.
Masalah Penelitian
Permasalahan pokok dalam kajian ini adalah bahwa : sudah kurang lebih 40 tahun pembangunan dilaksanakan oleh Pemerintah dengan mengeksploitasi kekayaan alam Papua untuk kepentingan nasional, namun taraf hidup masyarakat lokal pedesaan di Papua umumnya dan Kabupaten Manokwari secara khusus belum mengalami perubahan yang signifikan sebanding dengan sumber daya alam yang disumbangkan untuk negara. Terjadi kesenjangan sosial dalam wujud perbedaan taraf hidup antara masyarakat lokal dengan sesama warga lain yang datang dari luar daerah dengan berbagai alasan untuk membangun, misalnya seperti warga transmigrasi dari Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana diuraikan di depan, maka rumusan permasalahan penelitian adalah “bagaimana keberhasilan implementasi kebijakan pembangunan perkebunan kelapa sawit berpola PIR yang ramah lingkungan dalam upaya pemberdayaan ekonomi rakyat selama 10 tahun terakhir di Kabupaten Manokwari ? “
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini adalah : 1). Menganalisis seberapa jauh Keberhasilan Implementasi Kebijakan Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Berpola PIR yang Ramah Lingkungan diterima dan dinikmati masyarakat di Kabupaten Manokwari. 2). Mengukur seberapa besar manfaat program atau kebijakan tersebut dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat lokal.
Landasan Teori
Menurut Badrun ( 1996 : 50 ) pembangunan / pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan pola PIR ini pada dasarnya bertujuan untuk mencapai beberapa sasaran, antara lain : a). Meningkatkan pendapatan masyarakat yang berpendapatan rendah melalui keikutsertaannya sebagai pemilik kebun plasma dengan harapan mampu menerapkan teknologi yang sesuai sehingga kebunnya berada pada tingkat produktifitas yang tinggi. b). sebagai upaya pendistribusian kekayaan nasional kepada masyarakat, melalui pendistribusian kredit untuk pembangunan kebun, dan pendistribusian lahan melalaui pemberian sertifikat tanah. c). sebagai upaya penyebaran pembangunan ke berbagai wilayah baru yang belum terjamah pembangunan teristimewa daerah terpencil dengan prasarana yang sangat tidak memadai sekaligus berperan sebagai pusat pertumbuhan. d). Memadukan perusahaan besar sebagai inti dari perkebunan rakyat sebagai plasma untuk mentransfer teknologi dan pertumbuhan kelembagaan-kelembagaan baru dikalangan masyarakat yang lebih maju
Dalam dunia perkebunan dikenal 3 ( tiga ) bentuk usaha perkebunan yaitu : Perkebunan Besar Negara, Perkebunan Besar Swasta dan Perkebunan Rayat. Secara nasional pembangunan perkebunan yang terencana telah dilakukan sejak Pelita I. Pada masa itu keadaan perkebunan sangat memprihatinkan baik perkebunan rakyat, perkebunan besar negara ataupun perkebunan besar swasta. Berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar perkebunan yang ada adalah perkebunan rakyat yang kemudian didasarkan atas sifat komoditas perkebunan yang merupakan komoditas yang diperdagangkan serta keinginan untuk tercapainya pembangunan, maka salah satu kebijaksanaan yang ditempuh adalah : Pembangunan perkebunan rakyat yang didukung oleh perkebunan besar yang dikenal dengan nama Pola PIR.
Sedangkan pembangunan atau bidang-bidang pembangunan tetentu yang siap dilaksanakan adalah merupakan suatu kebijaksanaan dari pimpinan atau suatu lembaga yang dilaksanakan oleh lembaga yang bersangkutan atau orang / lembanga lainnya. Sehubungan dengan itu secara tegas dikemukakan oleh Udoji bahwa “ the execution of policies is as important if not more important than policy –making. Policies will remain dreams or blue pronts file jackets unless tey are implementet” ( pelaksanaan kebijaksanaan adalah sesuatu yang penting, bahkan mungkin jauh lebih penting dari pada pembuatan kebijaksanaan. Kebijaksanaan-kebijaksanaan akan sekedar berupa impian atau rencana bagus yang tersimpan dalam arsip kalau tidak dimplementasikan (Udoji, 1981:32 dalam Wahab, 2001:59 ). Jadi sesungguhnya implementasi kebijaksanaan itu sesndiri adalah suatu “proses”, seperti yang dirumuskan secara rinci oleh Mazmanian dan Sabatier bahwa implementasi adalah pelaksanaan keputusan kebijaksanaan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan penting dari eksekutif atau keputusan badan peradilan. Lazimnya keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan/sasaran yang dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan / mengatur proses implementasinya yang berlansung setelah melalui sejumlah tahapan tertentu.
Berbicara masalah pembangunan yang ramah lingkungan, maka menurut Otto Sumarwoto ( dalam Koesnadi Hardjasoemantri, 2002 : 2 ) bahwa lingkungan atau ekologi adalah “Ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya”. Studi-studi ekologi / lingkungan meliputi berbagai bidang : studi ekologi sosial, ekologi manusia, ekologi kebudayaan, ekologi fisis, ekologi biologis, ekologi politik, ekonomi dan lainnya. Ekologi Fisis, adalah studi menyangkut lingkungan hidup dan sumber daya alamnya. Ekologi Sosial, adalah relasi sosial yang berada di tempat tertentu dan dalam waktu tertentu dan yang terjadinya oleh tenaga-tenaga lingkungan yang bersifat selektif dan distributif. Sedangkan ekologi manusia merupakan studi tentang interaksi antara manusia dan kondisi alam. Ekologi Kebudayaan atau lingkungan budaya sebagai suatu studi tentang hubungan timbal balik antara variabel habitat yang paling relevan dengan inti kebudayaan ( Koesnadi Hardjasoemantri, 1999 : 2). Sementara itu, ekologi ekonomi seperti dikemukakan oleh Raldi H. Koetur ( 1997 : 16 ) dari sudut pandang ekonomi sumberdaya lingkungan bahwa “meningkatnya permintaan melalui kegiatan intensif manusia menghasilkan suatu kualitas lingkungan tertentu. Peningkatan permintaan yang berlebihan yang menghantar pada kegiatan manusia yang lebih intensif terhadap sumber daya yang ada, maka pada saat yang sama akan terbentuk kualitas lingkungan yang lebih rendah dengan dampak negatif yang semakin meningkat.
Selanjutnya Mubyarto ( 1999 : 19 ) mengungkapkan bahwa kondisi dan periode perkembangan kita sekarang merupakan momentum yang tepat untuk menyadarkan betapa kunci ketahanan ekonomi nasional kita sebenarnya tidak semata-mata terletak di tangan “para konglomerat” yang sejauh ini dianggap sebagai simbol usaha-usaha yang “efisien” dan “profesional” yang dapat diandalkan dalam era persaingan global yang semakin ketat. Ketahanan nasional sebenarnya sangat erat kaitannya dengan keandalan ekonomi rakyat, yang dalam sejarah di masa penjajahan maupun pada 25 tahun pertama kemerdekaan (1945-1969) telah membuktikannya. Ekonomi rakyat atau perkonomian rakyat adalah sokoguru perekonomian nasional. Pengembangan ekonomi rakyat dengan cara semakin memberdayakannya tidaklah sekedar merupakan kebijaksanaan karikatif yang dikhawatirkan akan “mengganggu upaya peningkatn efisiensi ekonomi nasional” tetapi diyakini justru akan mendukung upaya-upaya ke arah itu. Ekonomi rakyat atau ekonomi kerakyatan adalah sumber kekuatan kita, sumber daya ketangguhan ekonomi nasional masa depan.
CARA PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif kualitatif, menggunakan teknik pengumpulan data melalui 4 ( empat ) cara, yaitu : 1). Metode Dokumentasi; 2).Metode Observasi; 3). Metode Angket dan 4). Metode Wawancara. Lokus penelitian di Kecamatan Warmare dan Kecamatan Prafi dengan sasaran atau fokusnya pada petani kelapa sawit. Dari 3.450 petani di lokus penelitian diambil sampel sebanyak 374 petani dalam 17 desa sample, yaitu di Kecamatan Warmare pada 9 desa dari 18 desa yang dimiliki dan di Kecamatan Prafi diambil 8 desa dari jumlah 15 desanya.
Data penelitian yang dihimpun terdiri atas 2 ( dua ) jenis data, yaitu data sekunder dan data primer. Data sekunder dihimpun dari instansi Pemerintah Kabupaten Manokwari ( Bappeda, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Kantor Statistik Kabupaten Manokwari ) dengan menggunakan Form Dokumentasi sebagai Instrumen Pengumpulan Data, kemudian juga menjaring informasi dan data dari beberapa informan kunci, menggunakan instrumen Pedoman Wawancara untuk mengetahui pola kebijakan serta untuk mengetahui bagaimana proses kebijakan dan implementasinya. Data yang dikumpulkan melalui Form Dokumentasi adalah data yang bersifat deskriptif tentang keadaan umum daerah penelitian serta pengamatan kondisi obyektif lapangan yang dicatat oleh penulis dalam catatan pribadi.
Sedangkan data / informasi melalui wawancara diperoleh dari para informan kunci yaitu dari D. da Costa (mantan Kepala Dinas Perkebunan ), Sefnat Yunias Paiki ( mantan Manteri Kebun pada Dinas Perkebunan ), Sakhrin Habib ( mantan Manteri Polisi Pamong Praja pada Kantor Camat Warmare ), Ms Randa ( mantan Kacab Dinas Kehutanan XIV Manokwari ), Yosep Lekitoo ( mantan peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Maluku – Irian Jaya di Manokwari ). Kemudian data primer diperoleh melalui angket yang disebarkan kepada para responden yaitu karyawan perkebunan yang sekaligus adalah petani plasma kelapa sawit. Dari 450 eksemplar angket yang disebarkan kepada petani, terkumpul kembali sebanyak 374 exemplar atau 83 %. Jumlah 374 buah angket tersebut berasal dari 17 desa pada dua kecamatan lokus, masing-masing Kecamatan Warmare ( Kec.Induk ) sebanyak 174 orang petani sample dan Kecamatan Prafi ( Kec. Pemekaran ) sebanyak 200 orang petani sampel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jika Pulau Papua diibaratkan sebagai seekor burung cenderawasih, maka Wilayah Kabupaten Manokwari terbentang disepanjang bagian leher dan kepala yang dikenal dengan sebutan Wilayah Kepala Burung meliputi Manokwari, Sorong dan Fak-Fak. Sebelum pemekaran Kabupaten Manokwari pada tahun 2003 yang lalu menjadi 3( tiga ) wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama, Luas wilayah Kabupaten Manokwari adalah 37.901 Km2, memiliki 17 wilayah kecamatan, 11 kelurahan dan 553 desa.
Dari penelitian yang dilakukan diperoleh data bahwa, potensi lahan untuk pengembangan perkebunan merupakan salah satu sumber daya ekonomi yang sangat diandalkan karena melalui pengembangan lahan perkebunan dapat menyerap dan memanfaatkan langsung tenaga kerja lokal dalam berbagai strata pendidikan, pekerjaan ini hanya mmembutuhkan ketekunan dan ketrampilan teknis di lapangan. Berdasarkan Survey lapangan dan penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian Pertanian Manokwari dan para konsultan dari perusahaan perkebunan negara mapun swasta ditemukan lahan seluas 945.900 hektar tersebar di beberapa kecamatan yang cocok bagi pengembangan komoditi pertanian dan perkebunan yang bernilai eksport ( data potensi lahan terlampir / tabel 1 ). Dari luas lahan tersebut kurang lebih 25 % telah dimanfaatkan untuk pengembangan perkebunan oleh Perusahaan Perkebunan Negara, Perkebunan Swasta dan Perkebunan Rakyat untuk pengembangan kelapa sawit dan kakao.
Pengembangan perdana perkebunan kelapa sawit dengan pola PIR baru dimulai akhir tahun 1982 ( Desember 1982 ) dan secara efektif dilaksanakan dalam tahun anggaran 1983 berlokasi di dataran Prafi yang terbentang pada 3 wilayah kecamatan, masing-masing Kecamatan Warmare ( Kecamatan Induk ), Kecamatan Prafi dan Kecamatan Masni ( Pemekaran ). Luas lahan yang tersedia pada 3 kecamatan ini adalah 55. 900 hektar, mulai dari Kecamatan Warmare hingga pantai Sidey Kecamatan Masni. Lahan yang telah direncanakan pemenfaatannya seluas 40.000 hektar di dataran Prafi terdiri dari 28.000 hektar diperuntukan bagi pengembangan perkebunan kelapa sawit dan 12.000 hektar untuk pengembangan tanaman padi sawah.
Pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan pola PIR ini dinyatakan berhasil. Kriteria keberhasilan ini secara fisik dapat dilihat pada luas areal kebun yang dibangun / dikembangkan mulai dari tahun 1983 hingga tahun 1997 mencapai 10.207 hektar, terdiri dari 7.400 hektar ( 72,50 % ) adalah kebun plasma milik masyarakat dan 2.807 hektar ( 27,50 % ) adalah kebun inti milik PT. Perkebunan Nusantara II Medan. Realisasi perluasan areal perkebunan pertahun sebagimana dimuat pada table 2 ( tertlampir ). Lahan perkebunan kelapa sawit tersebut tersebar pada : 1). Kecamatan Warmare seluas 1.068 hektar; 2). Kecamatan Prafi 3.332 hektar dan di Kecamatan Masni seluas 3.000 hektar. Sumber dana yang digunakan dalam pembangunan perkebunan ini berasal dari : APBN, Pinjaman Bank Pembangunan Asia ( ADB ), Kredit Koperasi Primer Anggota ( KKPA ) dan PT. Perkebunan Nusantara II Medan.
Dampak positif maupun negatif yang timbul sebagai akibat dari pengembangan perkebunan besar ini, sebagai berikut :
1 ). dampak positif, yang dirasakan atau dinikmati masyarakat terutama pada 3 wilayah kecamatan tersebut, yaitu : ( a ). Terbuka kesempatan dan lapangan kerja bagi warga masyarakat local yang tidak berpendidikan sekalipun untuk berkerja sebagai tenaga kerja kasar / karyawan perusahaan maupun utamanya adalah sebagai petani plasma yang memiliki lahan usaha sendiri. Tenaga Kerja yang terserap terutama sebagai petani plasma sesuai tujuan utama pembangunan perkebunan ini sampai dengan tahun 2003 yang lalu adalah sebanyak 6.200 kepala keluarga petani tersebar pada Kecamatan Warmare 534 kepala keluarga, Kecamatan Prafi 2. 916 kepala keluarga dan Kecamtan Masni 2.750 kepala keluarga. ( b ). Dari lapangan usaha tersebut pendapatan masyarakat khususnya petani plasma yang diperoleh dari panen buah kelaphd9 sawit mencapai 66 – 80 % meningkat 50 % dari usaha sebelumnya sebagai petani tradisional yang hanya mencapai 15 – 30 %. ( c ). Dari sisi budaya, terjadi pembauran budaya antara masyarakat lokal dan warga dari luar. Masyarakat lokal mulai belajar dan membiasakan diri untuk menyimpan kelebihan pendapatannya pada bank pemerintah kurang lebih mencapai 37,4 %. Dan sekitar 40,9 % membangun rumah permanen ( modern ), 54 %membangun rumah semi permanen dengan sistem gotong royong dan beralih dari kebiasaan hidup menempati rumah-rumah tradisional secara berkelompok dalam jumlah 15 hingga 20 keluarga ke rumah modern yang ditempati 1 ( satu ) keluarga. ( d ). Pengeloloaan lingkungan baik alam/ tanah dan hutan, social. Ekonomi dan budaya nampak tertata secara baik, seperti aktivitas masyarakat sebagai petani plasma menuntut mereka untuk tetap mengawasi dan merawat tanamannya sehingga mengurangi kegiatan merambah hutan, dari sisi lingkungan sosial terjalin kehidupan yang harmonis antar berbagai suku dan ras, hidup berdampingan dalam lokasi yang sama, melakukan kegiatan ekonomi yang sama, terjadi pembauran budaya secara alami. ( e ). Terbuka isolasi daerah dan sosial. Realisasi dari Program Pengembangaan Perkebunan Kelapa Sawit tersebut telah mempercepat terbukanya isolasi daerah, memperlancar arus transportasi yang turut meningkatkan pendapatan masyarakat di dataran Prafi, memperlancar interaksi sosial dan komunikasi antar daerah sehingga membawa masyarakat semakin terbuka kepada suatu kehidupan budaya kebangsaan yang saling menghargai dan menghormati hak azasinya masing-masing.
2 ). Dampak negarif yang terjadi dan terasa dalam masyarakat antara lain : ( a ). Pengembangan areal perkebunan yang luasnya telah mencapai 10.207 hektar tersebut walaupun berada pada Kawasan Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK ), namun secara nyata telah mengganggu ekosistem pada areal hutan dan lingkungan sekitarnya. Keberadaan dari keanekaragaman flora dan fauna lembah di dataran Prafi menjadi hilang. Iklim mikro yang kurang sejuk dirasakan setelah dibukanya lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit. Nilai konservatif dan estetika hutan menjadi hilang. Dengan sendirinya salah satu aspek budaya masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan pun ikut berubah atau hilang. ( b ). bahwa sewaktu-waktu limbah pabrik akan mencemarkan lingkungan hidup masyarakat yang kebanyakan berada di sekitar hulu sungai, disebabkan letak pabrik pengolahan hasil sawit saat ini kurang tepat / kurang cocok karena berada di posisi hilir sungai sehingga perlu dipikirkan agar dipindahkan ke lokasi yang aman dan strategis yang dapat pula menunjang kelancaran arus transportasi pengangkutan hasil produksi.
Keberhasilan yang dicapai dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan perkebunan ini tentunya tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung, seperti : 1). Komitmen membangun yang tinggi dari Bupati; 2) Persepsi dan Partisipasi yang baik dari warga masyarakat terhadap kebijakan dan lingkungan; 4). Kualitas kerja aparat di lapangan yang cukup tangguh serta 5). Terjalinnya hubungan kerja ( kemitraan ) yang harmonis antara Pemda dan PT. Perkebunan Nusantara II Prafi serta warga masyarakat di Kecamatan Warmare dan Kecamatan Prafi bahkan Kecamatan Masni. Komitmen Bupati yang tinggi, bila didukung dengan persepsi dan partisipasi masyarakat yang baik terhadap kebijakan / program yang dicanangkan, serta ditunjang pula dengan kualitas kerja yang baik dari aparat dan tercipta hubungan kerja yang harmonis dengan mitra kerja, diharapkan Implementasi Kebijakan dapat berhasil sehingga tujuan dari kebijakan yang ditetapkan dapat pula tercapai, seperti tergambar dalam skema terlampir ( gambar 1 ).
Manfaat yang dirasakan penduduk setelah 10 tahun program berjalan, 70 % responden berpendapat bahwa program itu “ sangat menolong masyarakat”, 17 % berpendapat programnya “ menolong“ kemudian yang menilai program “ cukup menolong” ada 11 % dan 2 % yang menjawab bahwa kondisi masyarakat biasa-biasa saja tidak terlalu menggembirakan. Selain itu sebagian besar responden ( 92,25 % ) menilai bahwa walaupun wajah hutan, sumber daya alam, flora dan fauna dikawasan lembah, serta sumber-sumber mata pencaharian masyarakat hilang akibat pembangunan perkebunan kelapa sawit akan tetapi manfaat yang diperoleh masyarakat melalui pembangunan perkebunan tersebut masih jauh lebih besar manfaatnya untuk menjamin hidup bila hutan dibiarkan tanpa pengolahan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Terdapat juga 90,64 % responden memberikan pendapat bahwa program 28.000 hektar kebun kelapa sawit yang telah, sedang dan akan dikembangkan tidak begitu saja menghilangkan hak-hak ulayat masyarakat, karena mereka sendiri dilibatkan untuk mengelola sumber daya alam/hutan disetiap kawasan hak ulayat masing-masing penduduk sebelum diolah menjadi kebun sawit. Hanya 9,36 % responden yang berpendapat lain.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang secara singkat diuraikan di depan, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Keberhasilan Implementasi Kebijakan Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Berpola PIR yang Ramah Lingkungan Dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, di dataran Prafi Kecamatan Warmare dan Kecamatan Prafi Kabupaten Manokwari kurang lebih 20 tahun lalu, dinyatakan “cukup berhasil “. Indikator keberhasilan ini dapat dilihat dari lahan perkebunan yang dibangun sejak tahun 1983 hingga 1997 mencapai 10.207 hektar, terdiri dari 7.400 hektar merupakan lahan usaha petani plasma ( masyarakat ), yang menyerap 6.200 orang Kepala Keluarga diperoleh melalui kredit. Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai faktor seperti : a). Faktor Kebijakan, yaitu adanya komitmen Bupati yang tinggi untuk membangun perkebunan kelapa sawit dengan strategi memberi peluang / kesempatan kepada investor untuk menginvestasikan modalnya di Kabupaten Manokwari dalam kegiatan perkebunan; melibatkan serta memotivasi partisipasi masyarakat dalam kebijakan yang dibuat seperti perencanaan penentuan lahan, mengutus perwakilan masyarakat untuk melalukan studi banding, memilih kelompok sasaran program serta membagun kemitraan dan menciptakan keharmonisan kerja. b). Faktor Organisasi, meliputi Sumber Daya Manusia yang tersedia baik kualitas akademisnya maupun mentalitasnya dalam menjalankan tugas, Budaya Organisasi, Alokasi dana penunjang program yang memadai dan unsur manajemen organisasi. c). Faktor Ekologi/Lingkungan, seperti lingkungan sosial menyangkut budaya dan pandangan masyarakat terhadap kebijakan dan eksistensi llingkungan alam, politik, tingkat ekonomi masyarakat, serta lingkungan alam ( geografis dan potensi ) kesemuanya cukup menunjang.
2. Kebijakan atau program ini dinilai sangat bermanfaat karena dapat menciptakan lapangan kerja sehingga warga masyarakat lokal di Kecamatan Warmare dan Kecamatan Prafi bahkan Kecamatan Masni mendapat kesempatan untuk merobah dan meningkatkan taraf hidupnya. Pendapatan bersih masyarakat ( Petani Plasma ) setelah dipotong kredit mencapai 66,84 % – 80 %, bila dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh warga masyarakat sebelum masuknya perkebunan atau pun pendapatan warga yang hingga saat ini tidak berkecimpung dalam kegiatan perkebunan kelapa sawit sebagai karyawan maupun sebagai petani plasma, penghasilan rata-rata perbulan tidak menentu hanya berkisar antara 15 – 30 % dari hasil usahanya yang masih bersifat tradisional. Jadi peningkatannya mencapai 50 %. Hal ini nampak didalam hasil-hasil nyata yang diperoleh dan dinikmati warga masyarakat setempat seperti memiliki rumah permanen, menyekolahkan anaknya hingga sekolah menengah bahkan perguruan tinggi, secara kelompok membeli kendaraan ( truk ) untuk usaha bersama, bisa menabung dari kelebihan pendapatannya di bank pemerintah, dapat beradaptasi dengan kelompok masyarakat luar yang sama-sama menjadi petani plasma.
=================
Daftar Lampiran
Tabel. 1 Potensi Lahan dan Rencana Pengembangan Komodi
Perkebunan
|
Lokasi |
Letak geografis |
Luas Lahan dan Fisiografi |
Komoditi yang cocok |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
1.Dataran Prafi sampai pantai Sidey
2.Pantai Utara Bintuni (Bintuni, Aranday & Merdey )
|
133027’-133057’BT dan 000 49’-000 58’ letak 40 Km ke arah barat laut kota Manok-wari antara Sungai Kasi ( Barat ) dan Sungai Prafi ( Timur) antara Pegunungan Arfak ( Selatan ) dan Lautan Pasifik ( Utara )
131018’-133051’BT 00056’-1047’ LS letak 134 Km antara dataran tinggi Kebar dan Teluk Bintuni
|
55.900 Ha Fisiografi : dataran degan lereng 0-30 Curah hujan 2500-3000 mm per thn, hari hujan 100-150 hari.
550.000Ha. Fisiografi : secara keseluruhan datar, makin ke utara makin bergelombang ringan. Curah hujan 2.000 – 3.000 mm per tahun; Hari hujan 159 hari, menurun pada bulan Mei sampai September.
|
Kelapa sawit, Kakao, Karet, Kelapa dalam.
Kelapa sawit, Kakao, Sagu
Tabel berlanjut ……
|
|
3.Dataran Isim, Momi dan Ransiki
4.Dataran Babo
|
134000’-134016’ BT 1008’ – 1036’ LS, Letak 120 Km arah selatan kota Manok-wari
130019’-133050’ BT 00055’-1048’LS, letak 210 Km arah selatan kota Manokwari.
|
90.000 Ha. Fisiografi : secara umum datarannya bergelom-bang ringan, semakin menjauh dari pantai berkelombang sema-kin berat. Curah hujan 1.000-1750 mm per tahun. Hari hujan : 100 hari, terluas antara bulan Oktober – Januari.
250.000Ha. Fisiografi : secara keseluruhan datar Curah hujan : 1.500-3.000 mm per tahun. Hari hujan : 100 – 150 hari. September sampai Januari.
|
Kelapa sawit, kakao, dan tanaman perkebunan lainya.
Kelapa sawit, Kakao, Kopi dan tanaman perkebunan lainnya.
|
Sumber data : - Dinas Perkebunan Kab. Manokwari, 1988
- Monografi Kabupaten Manokwari, 1990
Tabel 2. Pengembangan Areal Perkebunan Kelapa Sawit
|
TAHAP |
TAHUN |
POLA / PERUNTUKAN |
LUAS LAHAN ( HA ) |
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
I
II III |
1983 s/d 1988 1990 s/d 1993 1985 s/d 1991 1995 s/d 1997 |
Inti Perusahaan sda PIR / Petani Plasma sda |
2.775,01 31,99 4.400 3.000 |
Sumber Data : - Dinas Perkebunan Kab. Manokwari
- PT. Perkebunan Nusantara II Kebun Prafi
|
Meningkatnya taraf hidup masyarakat
|
|
Keberhasilan Implementasi Kebijakan Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Pola PIR yang Ramah Lingkungan Dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Rakyat - Luas lahan yang dibangun - Tersedia lapangan pekerjaan - Meningkatnya pendapatan masyarakat - - Terkelolanya lingkungan hidup secara - bertanggung jawab |
|
Komitmen Bupati yang tinggi |
Persepsi dan Partisipasi Masyarakat yang baik |
Kualitas kerja yang baik dari Aparat |
Kemitraan kerja yang harmonis |
Gambar 1. Skema Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kebijakan
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Saifuddin. 1998. Metode Penelitian. Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Baswir, Revrisond., 1997. Agenda Ekonomi Kerakyatan. Pustaka Pelajar bekerjasama IDEA, Yogyakarta.
Baiquni, Muhammad dan Susilowardani., 2002. Pembangunan yang tidak Berkelanjutan Refleksi Kritis Pembangunan Indonesia. Penerbit Transmedia Global Wacana, Yogyakarta.
Badrun, M, 1996 Perusahaan Inti Rakyar Perkebunan ( PIR-BUN ) Kemitraan Usaha Besar Dalam Agribisnis Perkebunan, Yayasana Gramedia.
Faisal, Sanapiah. 2001. Format-format Penelitian Sosial. PT. Rajawali Grafindo Persada, Jakarta.
Hardjosoemantri, Koesnadi, 2002, Hukum Tata Lingkungan. Gadjah Mada Press, Yogyakarta.
Koestoer, R. H. 1997., Prespektif Lingkungan Desa-Kota: Teori dan Kasus Penerbit Universitas Indonesia, Salemba Jakarta.
Mubyarto, 1999. Reformasi Sistem Ekonomi : Dari Kapitalisme Menuju Ekonomi Kerakyatan. Aditya Media Yogyakarta.
Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Pemerintah Kabupaten Dati II Manokwari, 1994. Potensi dan Prestasi Kabupaten Daerah Tingkat II Manokwari. Penerbit Humas Pemda Tk. II Manokwari.
Setyodarmojo, Soenarko, 1998. Public Policy : Pengertian Pokok untuk Memahami dan Analisa Kebijaksanaan Pemerintah. Penerbit Papyrus, Surabaya.
Wahab, Solichin Abdul, 2001. Analisis Kebijaksanaan : Dari Formulasi Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara.PT. Bumi Aksara, Jakarta
PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT POLA PIR YANG RAMAH LINGKUNGAN
DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT
DI KABUPATEN MANOKWARI PAPUA
Disusun oleh
Nataniel Dominggus Mandacan
8628/PS/MAP/01
Pembimbing Utama
Tanggal,…………………..
Dr. Samsubar Saleh
Pembimbing Pendamping I
Tanggal,…………………..
Drs. Ratminto, MPA
PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT POLA PIR
YANG RAMAH LINGKUNGAN DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT
DI KABUPATEN MANOKWARI PAPUA
Naskah Publikasi
Untuk memenuhi persyaratan
Wisuda Program S2
Disusun oleh:
Nataniel Dominggus Mandacan
No.Mhs.8628/PS/MAP/01
PROGRAM PASCA SARJANA
MAGISTER ADMINISTRASI PUBLIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2004
Recent Comments